Kamis, 03 September 2009

Penggolahan Air Asin Menjadi Air Minum Dengan Sistem Osmosis

PDF Print E-mail
Written by Rieko Kristian
Saturday, 28 March 2009 19:57

PENDAHULUAN

Alat pengolah air asin ada banyak dan macamnya. Selama ini untuk mengolah air asin dikenal dengan cara destilasi, pertukaran ion, elektrodialisis, dan osmosa balik. Masing-masing teknologi mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pemanfaatan teknologi pengolahan air asin harus disesuaikan dengan konsidi air baku, biaya yang tersedia, kapasitas dan kualitas yang diinginkan oleh pemakai air. Di antara berbagai macam teknologi tersebut yang banyak dipakai adalah teknologi destilasi dan osmosa balik. Teknologi destilasi umumnya banyak dipakai ditempat yang mempunyai energi terbuang (pembakaran gas minyak pada kilang minyak), sehingga dapat menghemat biaya operasi dan skala produksinya besar (>500 m3/hari). Sedangkan teknologi osmosa balik banyak dipakai dalam skala yang lebih kecil.

Keunggulan teknologi membran osmosa balik adalah kecepatannya dalam memproduksi air, karena menggunakan tenaga pompa. Kelemahannya adalah penyumbatan pada selaput membran oleh bakteri dan kerak kapur atau fosfat yang umum terdapat dalam air asin atau laut. Untuk mengatasi kelemahannya pada unit pengolah air osmosa balik selalu dilengkapi dengan unit anti pengerakkan dan anti penyumbatan oleh bakteri. Sistem membran reverse yang dipakai dapat berupa membran hollow fibre, lempeng/plate atau berupa spiral wound. Membran ini mampu menurunkan kadar garam hingga 95-98%. Air hasil olahan sudah bebas dari bakteri dan dapat langsung diminum.

Teknologi pengolahan air asin sistem osmosa balik banyak dipakai di banyak negara seperti Amerika, Jepang, Jerman dan Arab. Teknologi ini banyak dipakai untuk memasok kebutuhan air tawar bagi kota-kota tepi pantai yang langka sumber air tawarnya. Pemakai lain adalah kapal laut, industri farmasi, industri elektronika, dan rumah sakit.

Unit Bergerak Pengolah Air Asin dimaksudkan sebagai UNIT EMERGENSI yang dapat membantu dalam penyediaan air bersih pada keadaan bencana alam, wabah diare atau muntaber pada suatu wilayah, kekurangan air tawar selama musim kemarau terutama pada daerah pantai.

PROSES DESALINASI OSMOSIS BALIK

Pada proses dengan membran, pemisahan air dari pengotornya didasarkan pada proses penyaringan dengan skala molekul. Di dalam proses desalinasi air laut dengan sistem osmosis balik, tidak memungkinkan untuk memisahkan seluruh garam dari air lautnya, karena akan membutuhkan tekanan yang sangat tinggi sekali. Pada prakteknya untuk menghasilkan air tawar, air asin atau air laut dipompa dengan tekanan tinggi ke dalam suatu modul membran osmosis balik yang mempunyai dua buah pipa keluaran, yakni pipa keluaran untuk air tawar yang dihasilkan dan pipa keluaran untuk air garam yang telah dipekatkan.

Di dalam membran Osmosa Balik tersebut terjadi proses penyaringan dengan ukuran molekul, yakni partikel yang molekulnya lebih besar dari pada molekul air, misalnya molekul garam dan lainnya, akan terpisah dan akan ikut ke dalam air buangan. Oleh karena itu air yang akan masuk ke dalam membran osmosa balik harus mempunyai persyaratan tertentu, misalnya kekeruhan harus nol, kadar besi harus < 0,1 mg/l, pH harus dikontrol agar tidak terjadi pengerakan kalsium karbonat dan lainnya.

Pengolahan air minum dengan sistem Osmosa Balik terdiri dari dua bagian, yakni unit pengolahan awal dan unit Osmosa Balik. Salah satu contoh diagram proses pengolahan air dengan sistem Osmosa Balik dapat dilihat seperti pada Gambar 1. Air laut, terutama yang dekat dengan pantai masih mengandung partikel padatan tersuspensi, mineral, plankton dan lainnya, maka air baku tersebut perlu dilakukan pengolahan awal sebelum diproses di dalam unit Osmosa Balik. Unit pengolahan pendahuluan tersebut terdiri dari beberapa peralatan utama yakni pompa air baku, tangki reaktor (kontaktor), saringan pasir, filter mangan zeolit, dan filter untuk penghilangan warna (color removal), dan filter cartridge ukuran 0,5 µm. Sedangkan unit Osmosa Balik terdiri dari pompa tekanan tinggi dan membran Osmosa Balik, serta pompa dosing klorine dan sterilisator ultra violet (UV).


Skema pengolahan air asin menjadii air minum



Gambar 1. Contoh Sistem Pengolah Air Asin



PROSES PENGOLAHAN

Air baku (air laut) dipompa ke tangki reaktor (kontaktor), sambil diinjeksi dengan larutan klorin atau Kalium Permanganat agar zat Besi atau Mangan yang larut dalam air baku dapat dioksidasi menjadi bentuk senyawa oksida Besi atau Mangan yang tak larut dalam air. Selain itu, pembubuhan Klorin atau Kalium Permanganat dapat berfungsi untuk membunuh mikroorganisme yang dapat menyebabkan biofouling (penyumbatan oleh bakteri) di dalam membran Osmosa Balik.

Dari tangki reaktor, air dialirkan ke saringan pasir cepat agar senyawa Besi atau Mangan yang telah teroksidasi dan juga padatan tersuspensi (SS) yang berupa partikel halus, plankton dan lainnya dapat disaring. Air yang keluar dari saringan pasir selanjutnya dialirkan ke filter Mangan Zeolit. Dengan adanya filter Mangan Zeolit ini, zat Besi atau Mangan yang belum teOsmosa Balikksidasi di dalam tangki reaktor dapat dihilangkan sampai konsentrasi < 0,1 mg/l. Zat Besi dan Mangan ini harus dihilangkan terlebih dahulu karena zat-zat tesebut dapat menimbulkan kerak (scale) di dalam membran Osmosa Balik.

Dari filter Mangan Zeolit, air dialirkan ke filter penghilangan warna. Filter ini mempunyai fungsi untuk menghilangkan senyawa warna dalam air baku yang dapat mempercepat penyumbatan membran Osmosa Balik. Setelah melalui filter penghilangan warna, air dialirkan ke filter cartridge yang dapat menyaring partikel dengan ukuran 0,5 µm. Setelah melalui filter cartridge, air dialirkan ke unit Osmosa Balik dengan menggunakan pompa tekanan tinggi sambil diinjeksi dengan zat anti kerak (antiskalant) dan zat anti biofouling. Air yang keluar dari modul membran Osmosa Balik yakni air tawar dan air buangan garam yang telah dipekatkan. Selanjutnya air tawarnya dipompa ke tangki penampung sambil dibubuhi dengan klorine dengan konsentarsi tertentu agar tidak terkontaminasi kembali oleh mikroba, sedangkan air garamnya dibuang lagi ke laut.

KUALITAS AIR BAKU

Kualitas air baku menentukan proses yang akan dilakukan untuk menghasilkan air yang siap diminum. Oleh karena itu pengambilan contoh air dari lokasi pengoperasian sangat dibutuhkan untuk desain alat. Jika kualitas air berubah-ubah sebaiknya dipilih lokasi yang paling stabil kualitasnya dan kalau perlu dibangun stasiun pengambilan air baku. Dengan demikian peralatan dapat bekerja secara efektif dan efisien. Air asin yang akan diolah oleh membran harus jernih, oleh karena itu pada kasus-kasus dimana air tidak jernih atau keruh perlu dilakukan pengolahan awal atau pretreatmen karena pretreatmen yang terpasang terbatas kemampuannya.

SUMBER TENAGA

Tenaga yang dibutuhkan untuk menjalankan seluruh unit osmosa balik sangat bervariasi tergantung dari kapasitas alat yang diinginkan, sebagai contoh alat pengolah air sistem osmosa balik kapasitas 10 m3/hari membutuhkan Genset dengan kapasitas 10 KVA dengan fasilitas 3 phase dan tegangan 380 volt.

CARA KERJA SISTEM DAN SPESIFIKASI TEKNIS

Berdasarkan analisa kualitas air baku, maka unit-unit berikut ini yang dilengkapi dengan perangkat pendukungnya dapat menurunkan kadar parameter-parameter yang tidak memenuhi syarat standar kualitas air minum yang berlaku.

1. Pompa Air Baku
Pompa air baku adalah pompa sentrifugal biasa dengan kapasitas yang sesuai dengan kapasitas maksimum dari Unit Pengolah Awal. Pompa air baku minimal mempunyai daya tarik minimal 9 meter dan daya dorong 40 meter. Pada kondisi daya hisap kurang, sebaiknya dilengkapi pula oleh pompa celup yang dipasang pada selang air baku. Unit-unit yang harus dilalui oleh air baku adalah tangki pencampur (reactor tank), saringan pasir cepat (rapid sand filter), saringan mangan-zeolit cepat dan saringan karbon aktif/resin. Sebagai contoh kasus dalam proses pengolahan awal (Kapasitas 10 m3/hari) kehilangan tekanan sekitar 2,5 bar. Sehingga minimal pompa air baku harus bertekanan 5 bar, sehingga pada saat memasuki unit osmosa balik tekanan masih tersisa sekitar 2 - 2,5 bar.
2. Tangki Pencampur
Tangki Pencampur adalah alat untuk mengakomodasikan terjadinya proses pencampuran antara air baku dan bahan-bahan kimia tertentu. Biasanya dipakai Kalium permanganat atau klorin yang berfungsi sebagai zat oksidator untuk menurunkan kandungan bahan organik dan soda ash yang digunakan untuk menaikkan pH kearah netral. Penggunaan Kalium permanganat atau klorin dimaksudkan untuk membunuh bakteri-bakteri pathogen, sehingga tidak menimbulkan masalah penyumbatan di sistem penyaringan berikutnya karena terjadinya proses biologi (terbentuknya jamur dll.). Tangki pencampur didisain khusus agar waktu kontak sesingkat mungkin dan pencampuran antara air baku dan bahan-bahan kimia tersebut dapat terjadi sebaik mungkin (homogen). Sistem pencampuran disini adalah sistem hidrolika (hydraulic mixing), sehingga dapat menghemat pemakaian energi listrik.
3. Penyaring Pasir Cepat
Air dari tangki pencampur masuk ke unit penyaringan pasir cepat dengan tekanan maksimum sekitar 4 Bar. Unit ini berfungsi menyaring partikel kasar yang berasal dari air baku dan hasil oksidasi kalium permanganat atau klorin, termasuk besi dan mangan. Unit filter berbentuk silinder dan terbuat dari bahan fiberglas. Unit ini dilengkapi dengan keran multi purpose (multiport), sehingga untuk proses pencucian balik dapat dilakukan dengan sangat sederhana, yaitu dengan hanya memutar keran tersebut sesuai dengan petunjuknya. Tinggi filter ini mencapai 120 cm dan berdiameter 30 cm. Media penyaring yang digunakan berupa pasir silika dan terdiri dari 4 ukuran, yaitu dari diameter terbesar 2 - 3 cm, kemudian 0,5 - 1 cm, 3 - 5 mm dan yang terkecil 1 - 2 mm. Unit filter ini juga didisain secara khusus, sehingga memudahkan dalam hal pengoperasiannya dan pemeliharaannya. Dengan dilengkapi oleh 2 (dua) buah water moore, maka penggantian media filter dapat dilakukan dengan mudah.
4. Penyaring Mangan Zeolit
Unit ini mempunyai bentuk dan dimensi yang sama dengan unit penyaring pasir cepat, namun mempunyai material media filter yang sangat berbeda. Media filter adalah mangan zeolit yang berdiameter sekitar 0,3 - 0,5 mm. Dengan menggunakan unit ini, maka kadar besi dan mangan, serta beberapa logam-logam lain yang masih terlarut dalam air dapat dikurangi sampai sesuai dengan kandungan yang diperbolehkan untuk air minum.
5. Penyaring Karbon Aktif atau Resin
Unit ini khusus digunakan untuk penghilang bau, warna, logam berat dan pengotor-pengotor organik lainnya. Ukuran dan bentuk unit ini sama dengan unit penyaring lainnya. Media penyaring yang digunakan adalah karbon aktif granular atau butiran dengan ukuran 1 - 2,5 mm atau resin sintetis, serta menggunakan juga media pendukung berupa pasir silika pada bagian dasar.
6. Filter Kartridge
Penyaring ini merupakan penyaring pelengkap untuk menjamin bahwa air yang akan masuk ke proses penyaringan osmosa balik benar-benar memenuhi syarat air baku bagi sistem osmosa balik. Alat ini mempunyai media penyaring dari bahan sintetis selulosa. Alat ini juga berbentuk silinder dengan tinggi sekitar 25 cm dan diameter sebesar 12 cm. Kemampuan filtrasi filter ada dua macam, yaitu 0,45 mm dan 0,1 mm. Unit ini dipasang sebelum pompa tekanan tinggi dan membran osmosa balik.
7. Pompa Tekanan Tinggi
Pompa Tekanan Tinggi digunakan untuk mengalirkan air dari sistem penyaringan konvensional ke sistem penyaringan skala molekuler (membrane polymer). Untuk menembus membran osmosa balik membutuhkan tekanan besar. Jika air baku payau (TDS < 12.000 ppm) maka tekanan yang dibutuhkan berkisar 20 - 30 bar, sedangkan untuk air laut dibutuhkan tekanan antara 30 - 60 bar. Tegangan listrik yang dibutuhkan oleh pompa ini adalah 380 Volt (tiga phasa).
8. Pompa Dosing
Dalam sistem pengolahan air payau dengan sistem osmosa balik ini, dibutuhkan 3 (tiga) buah pompa dosing. Masing-masing untuk klorin atau kalium permanganat, zat pengatur pH (soda ash), anti pengerakkan dan anti penyumbatan. Pompa dosing memerlukan energi listrik yang rendah, yaitu maksimum sebesar 30 Watt. Kapasitas dapat divariasikan dari 0,39 sampai dengan 12,0 liter per jam dan jumlah stroke maksimum 100 untuk setiap menit. Berat pompa masing-masing sekitar 2,6 kg. Tekanan 5 - 7 Bar.
9. Unit Osmosa balik
Unit Osmosa balik merupakan jantung dari sistem pengolahan air secara keseluruhan. Unit ini terdiri dari selaput membran yang digulung secara spiral dengan pelindung kerangka luar (vessel) yang tahan terhadap tekanan tinggi. Kapasitas tiap unit bermacam-macam tergantung disain yang diinginkan. Daya tahan membran ini sangat tergantung pada proses pengolahan awal. Jika pengolahan awalnya baik, maka membran ini dapat tahan lama.
10. Panel Kontrol
Seluruh rangkaian listrik dalam sistem osmosa balik ini berada dan berpusat dalam satu unit yang disebut panel kontrol. Panel ini dilengkapi dengan indikator-indikator tekanan dan sistem otomatis. Apabila tekanan pada membrane telah mencapai nilai maksimum, maka dengan sendirinya switch aliran listrik menghentikan suplainya dan seluruh sistem juga berhenti. Dalam keadaan seperti ini kondisi membran harus diamati secara khusus dan apakah sudah saatnya harus diganti.
11. Ultra Violet Sterilizer
Proses sterilisasi dalam sistem pengolahan air ini menggunakan lampu Ultra Violet. Lampu ini dapat membunuh semua bakteri dalam air minum. Ukuran dan dimensi alat ini sama dengan Filter Kartridge. Energi yang dibutuhkan maksimum sebesar 30 Watt. Lampu ini dipasang sebagai tambahan, terutama jika unit dipergunakan untuk air tawar dan tidak melalui membran osmosa balik.
12. Tangki Penampung Air Olahan
Air hasil pengolahan sistem osmosa balik ini ditampung pada tangki penampung air olahan. Jumlah tangki penampung disesuaikan dengan kebutuhan. Setiap tangki penampung ini bervolume 1000 liter. Tangki ini terbuat dari bahan fiberglas. Tangki penampung ini diletakkan ditempat yang agak tinggi (1 m atau lebih) agar supaya air hasil olahan tersebut dapat dialirkan secara gravitasi.
13. Tangki Bahan-Bahan Kimia
Tangki bahan kimia terdiri dari lima buah tangki fiberglas dengan volume masing-masing 30 liter. Bahan-bahan kimia utama adalah klorin, kalium permanganat, soda ash, anti penyumbatan dan anti pengerakkan. Sebuah tangki lagi dipersiapkan dan digunakan sebagai cadangan.
14. Sistem Jaringan Perpipaan
Sistem jaringan perpipaan terdiri dari empat bagian, yaitu jaringan inlet (air masuk), jaringan outlet (air hasil olahan), jaringan bahan kimia dari pompa dosing dan jaringan pipa pembuangan air pencucian. Sistem jaringan ini dilengkapi dengan keran-keran sesuai dengan ukuran perpipaan. Diameter yang dipakai sebagian besar adalah 3/4 “, sebagian lagi 1” dan 1/2”. Bahan pipa PVC tahan tekan, seperti rucika. Sedangkan keran yang dipakai adalah keran tahan karat terbuat dari plastik.

Minggu, 05 Juli 2009

Tidur berkualitas merupakan kondisi istirahat yang diidamkan setiap orang. Namun, di tengah kesibukan dan rutinitas bekerja, jam tidur kerap berkurang

Tidur berkualitas merupakan kondisi istirahat yang diidamkan setiap orang. Namun, di tengah kesibukan dan rutinitas bekerja, jam tidur kerap berkurang dan tidur tidak nyenyak. Efeknya, ketika bangun pagi badan terasa kurang fit, sering merasa mengantuk di siang hari, sulit berkonsentrasi dan mudah pusing. Lalu bagaimana cara mengatasinya ?
Sebenarnya, waktu ideal untuk tidur sebanyak 6-8 jam sehari. Namun, seiring bertambahnya usia biasanya menjadi 4 jam sehari dan tingkat pulasnya pun dapat berkurang. Hal ini masih normal terjadi dan belum tentu dikategorikan sebagai insomnia.
Tidak hanya faktor usia, sulit tidur juga dapat disebabkan oleh efek samping obat. Misalnya, akibat mengonsumsi obat anti hipertensi, obat steroid, dan yang mengandung kafein. Jika harus mengonsumsi obat-obatan tersebut secara rutin, Anda dapat mengganti obat dari golongan berbeda tetapi memiliki manfaat serupa, tanpa ada efek samping sulit tidur.
Untuk membantu mengatasi masalah sulit tidur, ada baiknya jika dimulai dengan mengatur hidup yang sehat. Keseimbangan antara olahraga teratur dan pola makan sehat serta lingkungan tempat tidur mempengaruhi kualitas istirahat di malam hari.
Olahraga diperlukan untuk menjaga stamina tubuh. Olahraga sebaiknya dilakukan secara rutin, di pagi atau sore hari, dapat dimulai dengan olahraga sederhana, seperti jalan kaki.
Jika harus membawa pekerjaan kantor ke rumah, sebaiknya berhentilah bekerja minimal satu jam sebelum tidur. Berikan tubuh dan pikiran Anda relaksasi barang sejenak agar tidur terasa lebih nyenyak.
Di samping itu, jam makan pun dapat mengganggu kualitas tidur. Usahakan makan setidaknya 4 jam sebelum tidur dan kendalikan porsi makannya agar tidak terlalu kenyang. Sebaliknya, tidur dengan perut lapar pun tidak disarankan karena kadar gula akan turun yang mengakibatkan efek pusing saat bangun di pagi hari.
Hindari pula makanan yang mengandung kadar lemak tinggi, gula, dan protein di jam-jam menjelang tidur malam. Sebaliknya, untuk membuat tubuh terasa lebih relaks, cobalah menyeruput minuman hangat, seperti teh, susu, atau segelas air hangat yang dicampur madu dengan takaran 2 sendok makan.
Terakhir, faktor lain yang juga mempengaruhi kualitas tidur Anda adalah lingkungan tempat Anda tidur. Usahakan tempat tidur Anda nyaman dan kamar tidur berventilasi baik dan bersih.
Ada baiknya juga jika mengonsumsi nutrisi penambah oksigen dalam darah, seperti Renuves Capsules atau Beneficial Capsules, yang akan mengembalikan kadar oksigen di dalam darah, sehingga tubuh akan menjadi lebih relaks saat tidur dan saat bangun pagi akan terasa lebih segar dan berseri. Serta konsumsi kalsium dan nutrisi lengkap yang berfungsi untuk menenangkan kerja persyarafan otak dan kontraksi otot, seperti Nutrient High Calsium.

sumber :http://dokternasir.web.id/cara-alami-mengatasi-sulit-tidur/

Jumat, 19 Juni 2009

PENGARUH PELAYANAN PENDAFTARAN PASIEN RAWAT JALAN TERHADAP KEPUASAN PASIEN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WATES

ABSTRAK

Latar Belakang : Proses pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak ada bagian pendaftaran dan tidak didukung oleh sarana penunjang lainnya.

Tujuan Penelitian : Mengetahui Pengaruh Pelayanan Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Terhadap Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Wates

Metode : Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitas dengan pendekatan Cross Sectional. Instrumen yang digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan terhadap kepuasan pasien adalah kuesioner, Subyek penelitian adalah pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Wates yang berjumlah 100 Responden.

Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan terhadap kepuasan pasien di rumah sakit umum daerah wates berdasarkan analisa data korelasi Product Momen Pearson.

Kesimpulan : Memiliki pengaruh pelayanan yang sangat kuat dan bermakna tetapi tidak berhubungan (R=0,386).

Kata Kunci : Pelayanan, Pendaftaran, Kepuasan Pasien

A. Latar Belakang

Dalam garis-garis besar haluan negara (GBHN) dikatakan bahwa pembangunan kesehatan harus di upayakan untuk mempertinggi derajat kesehatan masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas hidup, taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat pada umumnya. Untuk mencapai tujuan yang sangat mulia itu segala upaya pelayanan kesehatan perlu ditingkatkan dengan memperluas dan memeratakan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Dalam rangka mewujudkan amanat GBHN tersebut Departemen Kesehatan RI telah melakukan upaya-upaya pemerataan dan peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Salah satu upaya strategi yang sangat penting adalah dengan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit.

Rumah sakit umum daerah wates menurut sejarahnya adalah kelanjutan dari peninggalan Pemerintah Belanda, yang terletak di sebelah Barat alun-alun Wates. Setelah kemerdekaan, keberadaannya tetap dilestarikan hingga tahun 1963 ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Kulon Progo. Saat ini kedudukan rumah sakit menjadi satu dengan Dinas Kesehatan Rakyat.

Sesuai dengan tuntutan jaman, Rumah Sakit Umum Daerah Wates berupaya mengembangkan diri dengan pindah kelokasi baru di dusun Beji Kecamatan Wates di Jalan Tentara Pelajar KM 1 No 5 Wates Kulon Progo. Pembangunan dan kepindahannya di resmikan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Suwardjono Suryaningrat pada tanggal 26 Februari 1963 dengan status kelas D.

Dasar hukum keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah Wates sebelum terbentuk masih menjadi bagian dari dinas kesehatan, dengan ketetapan Perda Kabupaten Dati II Kulon Progo No. 5 tahun 1982 dengan mencabut Perda Kabupaten Kulon Progo No. 6 tahun 1963 sesuai dengan Perda Kabupaten Dati II Kulon Progo No. 16 tahun 1994, kedudukan Rumah Sakit Umum Daerah Wates tetap sebagai UPTD. Pengelolaanya mulai diatur secara mendiri setelah terbitnya Perda Kabupaten Dati II Kulon Progo No. 22 tahun 1994 tentang pembentukan Rumah Sakit Umum Daerah Wates dan Perda kabupaten Dati II Kulon Progo No. 23 tahun 1994 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah Wates. Sejak di terbitkannya dua peraturan daerah tersebut maka kedudukan rumah sakit umum daerah wates menjadi semakin mantap.

Rumah Sakit Umum Daerah Wates ditingkatkan kelasnya menjadi kelas C dengan di terbitkanya Surat Keputusan Menkes No. 491/SK/V/1994 tentang Peningkatan Kelas Rumah Sakit Umum Daerah Wates milik Pemerintah Daerah Tingkat II Kulon Progo menjadi kelas C. Upaya peningkatan rumah sakitumum daerah wates dalam pengelolaanya agar lebih mandiri terus diupayakan, salah satunya dengan mempersiapkan rumah sakit umum daerah wates menjadi unit swadana melalui tahap uji coba, maka baru di tetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah Wates unit swadana melalui SK Bupati No. 343/200.

Proses pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan dengan baik apabila tidak ada bagian pendaftaran dan tidak didukung oleh sarana penunjang pelayanan kesehatan seperti bagian apotik, bagian personalia, bagian logistik, bagian keuangan, bagian pemasaran dan bagian penunjang pelayanan kesehatan yang lain. Dalam rumah sakit sarana pelayanan kesehatan dan sarana penunjang pelayanan kesehatan memiliki kedudukan yang sama dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesehatan.

Dalam memberikan pelayanan umumnya masyarakat mempunyai kesan pertama dalam menilai rumah sakit adalah penampilan dari pelayanan rawat jalan dan juga bagaimana kesan lamanya waktu yang di berikan oleh rumah sakit. Pada umumnya rumah sakit memberikan pelayanan kepada pasien yang datang sesuai dengan kemauannya dan bila distribusi waktu pelayanan tidak di ketahui maka akan menyebabkan waktu tunggu pelayanan lama, sehingga pelayanan di instansi rawat jalan dapat menyebabkan pasien tidak puas dan akan berakibat kunjungan pasien rawat jalan menurun ini berarti tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pelayanan rumah sakit yang bersifat strategis bagi rumah sakit karena mulai pasien datang ke loket harus mendaftar dan menulis nama pasien oleh petugas, pertama pasien datang kemudian mendaftarkan ke loket karcis, bagi pasien lama dengan menyerahkan kartu berobat dan karcis sedang pasien baru dengan menyerahkan karcis dan menginformasikan identitas pasien kepada petugas sehingga petugas dapat menulisnya dengan baik dan jelas setelah selesai di pendaftaran pasien disarankan langsung menunggu ke poliklinik yang di tuju dan menunggu di sana untuk diperiksa.

Konsep di atas menetapkan pentingnya mengetahui pengaruh pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan terhadap kepusan pasien dari pelayanan yang telah diberikan. Kepusan pasien penting bagi pemasaran pada umumnya dan dianggap sebagai faktor penentu yang sangat berarti bagi peningkatan pengguna jasa berulang. Inti dari konsep ini merupakan konsep yang di harapkan untuk memasarkan jasa pelayanan kesehatan rumah sakit. Kepuasan pasien adalah konsep pemasaran yang baik dan menguntungkan bagi pemakai jasa berulang. Sehingga, bila tingkat kepuasan dapat terukur berarti dapat memberikan gambaran yang berarti tentang pengaruh pelayanan yang di berikan pengguna pelayanan atau pasien. Kepuasan pasien ini sangat penting karena pengalaman ini akan jadikan salah satu pertimbangan oleh pasien untuk menggunakan jasa layanan yang sama untuk masa yang akan datang.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana Pengaruh Pelayanan Pendaftaran Pasien Rawat Jalan Terhadap Kepuasan Pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Wates ?.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan terhadap kepusan pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Wates.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya pengaruh pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Wates.

b. Diketahuinya kepuasan pasien pada pelayanan pendaftaran rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Wates.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Masyarakat

Sebagai informasi bagi masyarakat mengenai pengaruh pelayanan pendaftaran terhadap kepuasan pasien.

2. Bagi Rumah Sakit

Dapat dimanfaatkan oleh manajemen untuk memperbaiki pelayanan pendaftaran dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan.

3. Bagi Peneliti

Bermanfaat untuk menambah pengetahuan serta wawasan tentang pelayanan di rumah sakit yang dapat memuaskan pasiennya.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah Wates Jalan Tentara Pelajar KM 1 No. 5 Wates Kabupaten Kulon Progo, sedangkan waktu penelitian dilaksanakan mulai tanggal 08 Februari 2007 sampai dengan tanggal 11 Juli 2007.

F. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai pengaruh pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan terhadap kepuasan pasien sepengetahuan peneliti belum pernah di lakukan oleh peneliti lainnya. Penelitian sejenis yang pernah di lakukan sepengetahuan peneliti adalah Sri rahayu (2005). Analisis kepuasan pelanggan di poli rawat jalan di Klinik Nur Hidayah Bantul DIY. Perbedaannya adalah dalam penelitian ini memfokuskan penelitian di pelayanan dokter.

G. Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitas yaitu jenis penelitian yang berlandaskan pada filsafat positifisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu.

1. Populasi dan sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Wates, sebesar 5000 orang berdasarkan laporan jumlah data pasien rawat jalan tahun 2007. Sampel yang diambil ditentukan dengan teknik Simple Random Sampling dan diperoleh sampel sebanyak 100 orang. Kriterianya sebagai berikut :

a. Dapat membaca dan menulis

b. Pasien kunjungan pertama atau ulangan

c. Pasien anak, kuesioner diisi orang tua.

2. Variabel Penelitian

a. Variabel terikat ( variabel dependen )

Variabel terikat (Y) yang digunakan dalam penelitian ini adalah kepuasan pasien rawat jalan.

b. Variabel bebas ( variabel independen)

Variabel bebas (X) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pelayanan pendaftaran pasien rawat jalan di Rumah Sakit.

3. Teknik pengumpulan dan analisis data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.

Dalam penelitian ini analisis yang peneliti gunakan adalah :

a. Analisis Univariat

Analisis ini nanti akan menggunakan Statistik Deskriptif untuk menggambarkan pasien rawat jalan yang nantinya akan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram.

b.Analisis Bivariat

Analisis dengan Regresi Linier sederhana adalah Regresi sederhana didasarkan pada hubungan fungsional ataupun kausal satu variabel independent dengan satu variabel dependen (Notoatmodjo. S., 2002; 188).

Rumus regresi linier sederhana adalah :

Dimana :

Y = Subyek dalam variable dependen yang diperlukan

a = Nilai Y bila X= 0 (nilai konstan)

b =Angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka independen. Bila b (+) maka naik, dan bila (-) maka terjadi penurunan.

X = Subyek pada variabel independen yang mempunyai nilai tertentu.

H. Daftar Pustaka

Bambang, Shofari, 2004, Pengantar Sistem Rekam Medis, Semarang.

Departemen Kesehatan RI, 1983, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta.

Fandi Tjiptono, 1996, Manajemen Jasa, Andi, Yogyakarta.

Jacobalis S. 1989. Menjaga Pelayanan Mutu di RS (Quality Assurance). Jakarta : Persi

Katz dan Jacqueline, M., 1997, Managing Quality Missouri: Mosdy.

Kotler, P., 1997, Manajemen Pemasaran: Analisis Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian, Jilid I Edisi 9, PT Prenhalindo, Jakarta.

Mc. Gibony, Jhon. R., 1997, Priciple of Hospital Administration, New York, GP. Putnam, Sons.

Melly, O., 1997, Ultimate Patient Satisfaction. New York: HFMA.

Parasuraman Zeithamel and Berry 1985. Conceptual Model of Service Quality and Its Simplications for Future Research Journal of Marketing Vol. 49, 41-50

Porter, E., 19985, Aspek-aspek yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan Perusahaan, Jakarta: Rineka Cipta.

Profil RSUD Wates Kabupaten Kulon Progo, 2007.

Riwidikdo, Handoko, 2006, Statistik Kesehatan, Yogyakarta : Mitra Cendikia Press.

Sabarguna, B., 2004, Pemasaran Rumah Sakit. Konsorsium RSI Jawa Tengah, DIY.

Silalahi, 1989, Rumah Sakit Indonesia, Jakarta : Rineka Cipta.

Snock, 1991, Hospital What They Are Hair They Work, Aspen System Corporation, Rock Ville, Maryland, London.

Sugiyono, 1999, Metode Penelitian Bisnis, Bandung : Alfabeta

Suprapto J., 1997, Pengukuran Tingkat Kepuasan Pelanggan Untuk Menaikkan Pangsa Pasar, Rineka Cipta, Jakarta.

Woodside, Frey and Daly, 1989, “Linking Service Quality, Customer Satisfaction, and Behavioral Intention” Jurnal of Health Care Marketing, Vol. 9 No. 4.5-17.

Yulianto, 2000, Analisis Kepuasan Pasien di Instansi Rawat Jalan RSU Jendral Ahmad Yani Metro Lampung, Tesis, Yogyakarta: MMR-UGM.

Ingin mendapatkan lengkapnya ? hubungi : stikes_smart@ymail.com
sumber : http://skripsistikes.wordpress.com

Senin, 15 Juni 2009

Atasi Insomnia, Perlancar Aktivitas

Ada kalanya kita mengalami hari buruk di pagi hari, perasaan tidak nyaman dan uring-uringan. Pernah kah Anda mencari penyebabnya? Menurut penelitian kurang tidur dan insomnia biasanya menyebabkan frustasi pada orang dewasa. Susah tidur di malam hari bisa membawa akibat buruk pada kesehatan. Bisa juga memicu depresi. Penyebab susah tidur pada tiap-tiap orang memang berbeda, tapi menurut penelitian stres akibat pekerjaan dan masalah keuangan lebih banyak membuat orang susah tidur. Tapi Anda bisa mengalahkan masalah sulit tidur ini. Ikuti delapan cara di bawah ini dan Anda akan bangun dengan perasaan segar di pagi hari.

1. Berhenti merasa cemas. Mengkhawatirkan masalah yang Anda hadapi setiap hari hanya akan membuat Anda susah memejamkan mata. Jika kekhawatiran merupakan penyebabnya, cobalah untuk lebih rileks. Atasi masalah yang Anda hadapi dan perpendek masa insomnia Anda. Tapi jika Anda masih mengalami insomnia setelah mengatasi masalah, sebaiknya pergi lah ke dokter.

2. Hindari berolah aga dua jam sebelum waktu tidur. Berolahraga sebelum waktu tidur atau dua jam sebelum tidur akan mengurangi perasaan rileks. Anda perlu mengurangi tingkat energi Anda, jadi lakukan kegiatan yang mendatangkan rasa santai di saat-saat sebelum tidur.

3. Hindari rangsangan. Jangan mengkonsumsi kafein setelah sore hari, hindari alkohol dan merokok, apalagi pada saat sebelum tidur. Sebaiknya minum satu cangkir teh non kafein, teh chamomile yang terbaik untuk membuat rileks.

4. Ciptakan zona nyaman untuk tidur. Zona nyaman saat-saat menjelang tidur dapat Anda sesuaikan dengan kebutuhan, misalnya kesejukan ruangan, terang dan gelapnya ruangan, ketenangan atau mungkin juga harus mematikan alat-alat elektronik. Ada orang-orang tertentu yang membutuhkan ketenangan total untuk dapat tertidur, jadi hindari jam yang berdetak di ruangan. Jangan bekerja, makan, nonton TV dan membaca di tempat tidur.

5. Minum sedikit air di malam hari. Banyak minum akan membuat Anda kebelet pipis. Pasti tidak menyenangkan di tengah-tengah tidur lelap tiba-tiba Anda mendapat dorongan ke kamar kecil. Jika memang dibutuhkan, minum satu cangkir teh hangat atau setengah gelas air putih sebelum tidur.

6. Tidur lah hanya pada jam tidur. Tidur panjang di siang hari hanya akan mengubah siklus normal jadwal tidur Anda. Sebisa mungkin hindari tidur siang berlebihan agar bisa lelap tidur di malam hari.

7. Jadikan kamar tidur tempat yang nyaman. Anda bisa menyingkirkan rasa khawatir saat naik ke tempat tidur. Gunakan saat siang untuk memikirkan segala permasalahan. Jika memang Anda butuh menuliskan apa pun masalah yang Anda pikirkan, lakukan di luar kamar tidur. Jadikan kamar tidur sebagai tempat terjauh dari rasa khawatir. Kalau perlu tuliskan peraturan dan tempelkan di dinding kamar agar Anda selalu ingat. Sebelum naik ke tempat tidur, ucapkan keras-keras untuk tidak memikirkan apapun yang membuat Anda merasa resah.

8. Menjauhkan diri. Jika 15 menit berlalu dan Anda belum juga bisa tidur, tinggalkan kamar dan lakukan sesuatu yang membuat Anda merasa rileks. Mandi air hangat, membaca buku atau melakukan perenggangan bisa membantu mengatasi saat seperti ini. Setelah 20 atau 30 menit Anda bisa kembali ke tempat tidur. Jika masih tidak berhasil, ulangi lagi aktivitas tadi.

Tidur cukup dan nyenyak memang dibutuhkan untuk membuat Anda merasa segar. Dengan pikiran dan perasaan segar, dijamin Anda akan dapat melakukan aktivitas apapun dengan lebih baik. Selamat mencoba

sumber : http://www.blogcatalog.com

Tidur Siang Itu Sangat Baik Untuk Kesehatan Jantung

Tak banyak yang menyadari, tidur sesaat saat istirahat siang membantu menurunkan resiko kematian, terutama pada pria muda berbadan sehat. Penelitian yang dilakukan ilmuwan Yunani selama rentang waktu enam tahun tersebut menyebutkan tidur siang selama kurang lebih 30 menit sedikitnya tiga kali seminggu memiliki resiko 37 persen lebih rendah mengalami gangguan sakit jantung.

Para ahli mengungkapkan tidur siang membantu orang untuk rileks dan mengurangi tingkat stres mereka, bahkan gangguan jantung lebih kecil ditemukan di negara yang rutin tidur siang, meski sejumlah studi menunjukkan hasil yang berbeda.

Riset yang dilakukan di Yunani ini dilakukan pada 23.681 prua dan wanita dalam rentang usia 20 sampai 86 tahun. Para partisipan memiliki catatan kesehatan yang baik, tanpa sejarah menderita penyakit jantung dan penyakit akut lainnya.

Dalam studi selama enam tahun tersebut, partisipan diminta keterangan tentang jam tidur siang mereka, pola makan mereka dan aktivitas fisik yang rutin mereka lakukan. Hasilnya, para peneliti menyatakan mereka yang tidur siang memiliki resiko lebih rendah menderita gangguan jantung sebanyak 34 persen dibanding mereka yang tak tidur siang.
Sementara mereka yang tidur siang lebih dari 30 menit selama tiga atau lebih dalam setiap minggunya memiliki catatan 37 persen lebih rendah terkena gangguan jantung.

Tidur Siang Pada PekerjaTidur siang juga menurunkan resiko gangguan jantung pada para pekerja, di mana sekitar 64 persen mengalami penurunan resiko jantung yang beresiko pada kematian. Sementara pada pria pengangguran, tercatat hanya sekitar 36 persen. Dalam studi ini tidak begitu banyak dijumpai perbandingan tingkat kematian pada wanita.

"Tidur siang dan gangguan pembuluh darah memiliki hubungan yang cukup berarti. Fenomana ini dijumpai pada negara yang mayoritas populasinya menjalani rutinitas tidur siang secara berkala, dan hasilnya tingkat kematian karena gangguan pembuluh darah sangat rendah," papar pemimpin penelitian Dr Dimitrios Trichopoulos, dari Harvard School of Public Health, seperti dilansir dari BBC, Senin (12/02/07).
Trichopoulos juga menambahkan meskipun berbagai studi tentang tidur siang kerap dilakukan dengan hasil yang berbeda, namun ada poin penting yang bisa ditarik dari studi ini, yakni: kita jadi mengetahui batas kesehatan dan kemampuan seseorang untuk mengontrol aktivitas fisiknya.
Hal senada juga dikatakan June Davison, perawat kesehatan dari British Heart Foundation, yang menyatakan tidur siang membantu mengurangi resiko penyaki jantung, terutama pada pria pekerja.

"Tidur siang di tengah-tengah jam istirahat membantu kita untuk rileks dan lepas dari beban sejenak, dan itu sangat berrarti bagi kesehatan kita. Yang harus kita ingat adalah menyeimbangkan istirahat dan aktivitas," kata Davison.
Davison juga menambahkan mereka yang mudah stres karena pekerjaan cenderung sembrono dengan perilaku kesehatan mereka, seperti: merokok berlebihan, mengkonsumsi makanan tak sehat, minum-minuman beralkohol dan bahkan lupa berolahraga. Hal inilah yang semakin meningkatkan resiko gangguan jantung.
Program tidur siang ini sudah dilirik Yarde Metals, perusahaan industri aluminium dan besi ini memiliki sebuah ruang khusus tidur siang untuk pekerjanya di kantor mereka, di Southington, Connecticut. Ruang tidur siang ini dilengkapi dua sofa kulit, bantal lembut, penerangan remang-remang dan sebuah jam weker.

"Meski hanya tidur sejenak, namun saya bisa kembali mengumpulkan energi dan membuat tubuh bugar. Saya rasa tidur siang harus mulai dibiasakan dalam rutinitas pekerjaan kita," jelas Mark Ekenbarger, insinyur Perusahaan Yarde Metals, yang menderita pembesaraan arteri dan harus rutin menjalani tidur siang atas nasihat dokter jantungnya.

"Tidur siang sendiri bukan sebuah kebiasaan di Amerika, karena tidur siang sama dengan kemalasan di dunia bisnis yang bermobilitas tinggi. Namun saat ini beberapa kantor di Amerika mulai memberikan waktu untuk tidur sejenak selama 30-40 menit saat istirahat siang, dan hasilnya mereka yang memanfaatkan tidur siang menjadi lebih produktif," jelas Bill Anthony, psikologis Universitas Boston dan pengarang "The Art of Napping at Work.


Sumber : http://id.shvoong.com/newspapers/indonesia/1839831-tidur-siang-itu-sangat-baik/

Selasa, 26 Mei 2009

Mengenai Pelayanan Rawat Inap



Untuk mengambil data mengenai Prosedur Pendaftaran Rawat Inap. Anda bisa memasukan alamat ini di address bar.
http://">http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=0&submit.y=0&qual=high&fname=/jiunkpe/s1/tmi/2003/jiunkpe-ns-s1-2003-25495044-1386-rawat_inap-chapter4.pdf

Sabtu, 16 Mei 2009

Rekam Medis, Defenisi dan Kegunaannya

Dalam pelayanan kedokteran di tempat praktek maupun di Rumah Sakit yang standar, dokter membuat catatan mengenai berbagai informasi mengenai pasien tersebut dalam suatu berkas yang dikenal sebagai Status, Rekam Medis, Rekam Kesehatan atau Medical Record. Berkas ini merupakan suatu berkas yang memiliki arti penting bagi pasien, dokter, tenaga kesebatan serta Rumab Sakit. Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai Rekam Medis serta aspek medikolegalnya.

Definisi Rekam Medis
Definisi Rekam Medis dalam berbagai kepustakaan dituliskan dalam berbagai pengertian, seperti dibawab ini:

1. Definisi Rekam Medis Menurut Edna K Huffman:

Rekam Medis adalab berkas yang menyatakan siapa, apa, mengapa, dimana, kapan dan bagaimana pelayanan yang diperoleb seorang pasien selama dirawat atau menjalani pengobatan.

2. Definisi Rekam Medis Menurut Permenkes No. 749a/Menkes!Per/XII/1989:

Rekam Medis adalah berkas yang beiisi catatan dan dokumen mengenai identitas pasien, basil pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lainnya yang diterima pasien pada sarana kesebatan, baik rawat jalan maupun rawat inap.

3. Definisi Rekam Medis Menurut Gemala Hatta

Rekam Medis merupakan kumpulan fakta tentang kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya, termasuk keadaan sakit, pengobatan saat ini dan saat lampau yang ditulis oleb para praktisi kesehatan dalam upaya mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien.

4. Permenkes No. 749a/Menkes!Per/XII/1989 Menurut Waters dan Murphy :

Rekam Medis adalah Kompendium (ikhtisar) yang berisi informasi tentang keadaan pasien selama perawatan atau selama pemeliharaan kesehatan”.

Isi Rekam Medis

Isi Rekam Medis merupakan catatan keadaan tubuh dan kesehatan, termasuk data tentang identitas dan data medis seorang pasien. Secara umum isi Rekam Medis dapat dibagi dalam dua kelompok data yaitu:

1. Data medis atau data klinis: Yang termasuk data medis adalah segala data tentang riwayat penyakit, hasil pemeriksaan fisik, diagnosis, pengobatan serta hasilnya, laporan dokter, perawat, hasil pemeriksaan laboratorium, ronsen dsb. Data-data ini merupakan data yang bersifat rahasia (confidential) sebingga tidak dapat dibuka kepada pibak ketiga tanpa izin dari pasien yang bersangkutan kecuali jika ada alasan lain berdasarkan peraturan atau perundang-undangan yang memaksa dibukanya informasi tersebut.

2. Data sosiologis atau data non-medis:

Yang termasuk data ini adalah segala data lain yang tidak berkaitan langsung dengan data medis, seperti data identitas, data sosial ekonomi, alamat dsb. Data ini oleh sebagian orang dianggap bukan rahasia, tetapi menurut sebagian lainnya merupakan data yang juga bersifat rahasia (confidensial).

Penyelenggaraan Rekam Medis

Penyelenggaraan Rekam Medis pada suatu sarana pelayanan kesehatan merupakan salah satu indikator mutu pelayanan pada institusi tersebut. Berdasarkan data pada Rekam Medis tersebut akan dapat dinilai apakah pelayanan yang diberikan sudah cukup baik mutunya atau tidak, serta apakah sudah sesuai standar atau tidak. Untuk itulah, maka pemerintah, dalam hal ini Departemen Kesehatan merasa perlu mengatur tata cara penyelenggaraan Rekam Medis dalam suatu peraturan menteri keehatan agar jelas rambu-rambunya, yaitu berupa Permenkes No.749a1Menkes/Per/XII/1989.

Secara garis besar penyelenggaraan Rekam Medis dalam Permenkes tersebut diatur sebagai berikut:

I. Rekam Medis harus segera dibuat dan dilengkapi seluruhnya setelah pasien menerima pelayanan (pasal 4). Hal ini dimaksudkan agar data yang dicatat masih original dan tidak ada yang terlupakan karena adanya tenggang waktu.

2. Setiap pencatatan Rekam Medis harus dibubuhi nama dan tanda tangan petugas pelayanan kesehatan. Hal ini diperlukan untuk memudahkan sistim pertanggung-jawaban atas pencatatan tersebut (pasal 5).

Pada saat seorang pasien berobat ke dokter, sebenamya telah terjadi suatu hubungan kontrak terapeutik antara pasien dan dokter. Hubungan tersebut didasarkan atas kepercayaan pasien bahwa dokter tersebut mampu mengobatinya, dan akan merahasiakan semua rahasia pasien yang diketahuinya pada saat hubungan tersebut terjadi.

Dalam hubungan tersebut se«ara otomatis akan banyak data pribadi pasien tersebut yang akan diketahui oleh dokter serta tenaga kesehatan yang memeriksa pasien tersebut. Sebagian dari rahasia tadi dibuat dalam bentuk tulisan yang kita kenal sebagai Rekam Medis. Dengan demikian, kewajiban tenaga kesehatan untuk menjaga rahasia kedokteran, mencakup juga kewajiban untuk menjaga kerahasiaan isi Rekam Medis.

Pada prinsipnya isi Rekam Medis adalah milik pasien, sedangkan berkas Rekam Medis (secara fisik) adalah milik Rumah Sakit atau institusi kesehatan. Pasal 10 Permenkes No. 749a menyatakan bahwa berkas rekam medis itu merupakan milik sarana pelayanan kesehatan, yang harus disimpan sekurang-kurangnya untuk jangka waktu 5 tahun terhitung sejak tanggal terakhir pasien berobat. Untuk tujuan itulah di setiap institusi pelayanan kesehatan, dibentuk Unit Rekam Medis yang bertugas menyelenggarakan proses pengelolaan serta penyimpanan Rekam Medis di institusi tersebut.

Manfaat Rekam Medis
Permenkes no. 749a tahun 1989 menyebutkan bahwa Rekam Medis memiliki 5 ,manfaat yaitu:
Sebagai dasar pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien
Sebagai bahan pembuktian dalam perkara hukum
Bahan untuk kepentingan penelitian
Sebagai dasar pembayaran biaya pelayanan kesehatan dan
Sebagai bahan untuk menyiapkan statistik kesehatan.

Dalam kepustakaan dikatakan bahwa rekam medis memiliki 5 manfaat, yang untuk mudahnya disingkat sebagai ALFRED, yaitu:

1. Adminstratlve value: Rekam medis merupakan rekaman data adminitratif pelayanan kesehatan.

2. Legal value: Rekam medis dapat.dijadikan bahan pembuktian di pengadilan

3. Financial value: Rekam medis dapat dijadikan dasar untuk perincian biaya pelayanan kesehatan yang harus dibayar oleh pasien

4. Research value: Data Rekam Medis dapat dijadikan bahan untuk penelitian dalam lapangan kedokteran, keperawatan dan kesehatan.

5. Education value: Data-data dalam Rekam Medis dapat bahan pengajaran dan pendidikan mahasiswa kedokteran, keperawatan serta tenaga kesehatan lainnya.

Penyimpanan Rekam Medis
Dalam audit medis, umumnya sumber data yang digunakan adalah rekam medis pasien, baik yang rawat jalan maupun yang rawat inap. Rekam medis adalah sumber data yang paling baik di rumah sakit, meskipun banyak memiliki kelemahan. Beberapa kelemahan rekam medis adalah sering tidak adanya beberapa data yang bersifat sosial-ekonomi pasien, seringnya pengisian rekam medis yang tak lengkap, tidak tercantumnya persepsi pasien, tidak berisi penatalaksanaan “pelengkap” seperti penjelasan dokter dan perawat, seringkali tidak memuat kunjungan kontrol pasca perawatan inap, dll.

Dampak dari audit medis yang diharapkan tentu saja adalah peningkatan mutu dan efektifitas pelayanan medis di sarana kesehatan tersebut. Namun di samping itu, kita juga perlu memperhatikan dampak lain, seperti dampaknya terhadap perilaku para profesional, tanggung-jawab manajemen terhadap nilai dari audit medis tersebut, seberapa jauh mempengaruhi beban kerja, rasa akuntabilitas, prospek karier dan moral, dan jenis pelatihan yang diperlukan.

Diantara semua manfaat Rekam Medis, yang terpenting adalah aspek legal Rekam Medis. Pada kasus malpraktek medis, keperawatan maupun farmasi, Rekam Medis merupakan salah satu bukti tertulis yang penting. Berdasarkan informasi dalam Rekam Medis, petugas hukum serta Majelis Hakim dapat menentukan benar tidaknya telah terjadi tindakan malpraktek, bagaimana terjadinya malpraktek tersebut serta menentukan siapa sebenarnya yang bersalah dalam perkara tersebut.

Sumber : Asta Qauliyah | October 4th, 2007
http://astaqauliyah.com/2007/10/04/rekam-medis-defenisi-dan-kegunaannya/

Uraian Mengenai Sistem

Seperti telah diuraikan sepintas dalam bagian terdahulu bahwa sistem adalah gabungan dari elemen-elemen (sub sistem) didalam suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan organisasi. Didalam suatu sistem terdapat elemen-elemen atau bagian-bagian dimana didalamnya juga membentuk suatu proses didalam suatu kesatuan maka disebut sub sistem (bagian dari sistem).

Selanjutnya sub sistem tersebut juga terjadi suatu proses berfungsi sebagai suatu kesatuan sendiri sebagai bagian dari sub sistem tersebut. Demikian seterusnya dari sistem yang besarnya ini, misalnya pelayanan kesehatan sebagai suatu sistem terdiri dari sub sistem pelayanan medik, pelayanan keperawatan, pelayanan rawat inap, rawat jalan dan sebagainya, dan masing-masing sub sistem terdiri sub-sub sistem lagi.

Sistem terbentuk dari elemen atau bagian yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Apabila salah satu bagian atau sub sistem tidak berjalan dengan baik maka akan mempengaruhi bagian yang lain. Secara garis besar, elemen-elemen dalam sistem itu adalah sebagai berikut :

1. Masukan (Input) adalah sub-sub elemen yang diperlukan sebagai masukan
untuk berfungsinya sistem.
2. Proses ialah suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah masukan sehingga
menghasilkan sesuatu (keluaran) yang direncanakan.
3. Keluaran (out put) ialah hal yang dihasilkan oleh proses.
4. Dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran setelah beberapa
waktu lamanya.
5. Umpan balik (feed back) ialah juga merupakan hasil dari proses yang sekaligus
sebagai masukan untuk sistem tersebut.
6. Lingkungan (environment) ialah dunia di luar sistem yang mempengaruhi sistem
tersebut.

Unsur-unsur tersebut dapat dilestarikan (lihat Bagan Elemen Suatu Sistem dibawah !)

Contoh :

Didalam pelayanan puskesmas yang menjadi input adalah dokter, perawat, obat-obatan, fasilitas lain, dan sebagainya. Prosesnya adalah kegiatan pelayanan puskesmas tersebut. Outputnya adalah pasien sembuh / tak sembuh, jumlah ibu hamil yang dilayani dan sebagainya.

Dampaknya adalah meningkatnya status kesehatan masyarakat. Sedangkan umpan balik pelayanan puskesmas antara lain keluhan-keluhan pasien terhadap pelayanan sedangkan lingkungan adalah masyarakat dan instansi-instansi diluar puskesmas tersebut.

Sistem pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran (medical services) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public health services). Dalam artikel ini, hanya akan dibahas sistem pelayanan kesehatan masyarakat saja.

Secara umum pelayanan kesehatan masyarakat adalah merupakan sub sistem pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah pelayanan preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan kesehatan) dengan sasaran masyarakat. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak melakukan pelayanan kuratif (pengobatan) dan rehabilitatif (pemulihan).

Oleh karena ruang lingkup pelayanan kesehatan masyarakat menyangkut kepentingan rakyat banyak maka peranan pemerintah dalam pelayanan kesehatan masyarakat mempunyai porsi yang besar. Namun demikian karena keterbatasan sumber daya pemerintah maka potensi masyarakat perlu digali atau diikutsertakan dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat tersebut.

Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam menggali dan membina potensi masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan masyarakat ini. Menggalang potensi masyarakat disini mencakup 3 dimensi, yakni :

a. Potensi masyarakat dalam arti komunitas (misalnya masyarakat RT, RW, kelurahan, dan sebagainya). Misalnya dengan adanya dana sehat, iuran untuk pengadaan PMT (Pembinaan Makanan Tambahan) untuk anak balita, kader kesehatan, dan sebagainya adalah bentuk-bentuk partisipasi dan penggalian potensi masyarakat dalam pelayanan kesehatan masyarakat.

b. Menggalang potensi masyarakat melalui organisasi-organisasi masyarakat atau sering disebut Lembaga-Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Penyelenggaraan pelayanan-pelayanan kesehatan masyarakat oleh LSM-LSM pada hakekatnya juga merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat.

c. Menggalang potensi masyarakat melalui perusahaan-perusahaan swasta yang ikut membantu meringankan beban penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat (puskesmas, balkesmas, dan sebagainya), juga merupakan bentuk partisipasi masyarakat dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat.

Pelayanan kesehatan masyarakat, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta perlu memperhatikan beberapa ketentuan, antara lain :

1. Penanggung Jawab

Suatu sistem pelayanan kesehatan masyarakat harus ada penanggung jawab oleh pemerintah maupun oleh swasta. Namun demikian di Indonesia, pemerintah (dalam hal ini Departemen Kesehatan) merupakan tanggung jawab yang paling tinggi. Artinya pengawasan, standar pelayanan dan sebagainya bagi pelayanan kesehatan masyarakat baik pemerintah (puskesmas) maupun swasta (balkesmas) adalah dibawah koordinasi Departemen Kesehatan.

2. Standar Pelayanan

Sistem pelayanan kesehatan masyarakat, baik pemerintah maupun swasta harus berdasarkan pada suatu standar tertentu. Di Indonesia, standar ini telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan dengan adanya buku Pedoman Puskesmas.

3. Hubungan Kerja

Sistem pelayanan kesehatan masyarakat harus mempunyai pembagian kerja yang jelas antara bagian satu dengan yang lain. Artinya fasilitas kesehatan tersebut harus mempunyai struktur organisasi yang jelas dan menggambarkan hubungan kerja, baik horizontal maupun vertikal.

4. Pengorganisasian Potensi Masyarakat

Ciri khas dari sistem pelayanan kesehatan masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat atau pengorganisasian masyarakat. Upaya ini penting (terutama di Indonesia) karena adanya keterbatasan sumber-sumber daya dari penyelenggara pelayanan kesehatan masyarakat, perlu keikutsertaan masyarakat ini.

Update : 20 Juli 2006

Sumber :

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.

Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat.2003.

Selasa, 12 Mei 2009

PCMAV 2.0.0 Valkyrie

Bagi kalian yang akan download PC MAV 2.0b (edisi bulan mei 2009) silahkan klik link dibawah ini :


http://www.box.net/shared/2j676gi1z3

dan untuk cleaner nya silahkan klik link dibawah ini :

http://www.agusramadhani.com/2009/04/download-pcmac-express-for-clean.html